Salah ukur intelegensia

Oleh:   Soffan   |   April 09, 2021

 



وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً
Bersama kesulitan, ada kemudahan.
HR. Ahmad no. 2804.
Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Punya title itu banyak gunanya, tapi title yang tak berguna juga banyak..

apa yang salah? 

Pinter itu mesti harus sekolah? di ukur pkek IQ?
saya tidak yakin IQ itu nilai akurat menunjukan intelegensia..

Mencoba menjawab dari yang saya pahami sesederhana mungkin, mohon maaf saya bertengkar lagi dengan intelegensia cuman masalahnya adalah cara kita mengukur internet sehat belum begitu akurat walaupun IQ jadi tolak ukur.

Apakah IQ bisa memprediksi orang itu seperti apa tingkat kesuksesan di masa depan?
Jika ingin mengukur intelensia dengan parameter akurat ada sebanyak 18 parameter yang harus digabungkan. Seharusnya kita lebih senang dengan mengkategorikan cara berpikir manusia.
Cara berpikir mahluk amoeba sampai manusia itu dibagi dibagi 4. Misal cara berfikir singa pada saat memangsa, dengan cara berkelompok menerkam buruannya semua mengambil peran yang satu gigit kaki satunya leher dan seterusnya. saya bingung mau nyontohin amoeba. Selanjutnya cerita maradona dari sang pelatih maradona itu pada saat bertanding bola dia tidak hanya menggiring bola dan mnegoper begitu saja, dia sudah tau diposisi mana itu siapa namanya siapa dan posisinya akurat.

Menurut saya potret intelegensia  dengan sekolah dan segala macam itu masih belum akurat saya lebih senang membedah itu menjadi empat bagian


sumber: human beeing (audio version) ilustrated with corel di perkuat dengan dalil maiah mas sabrang

Pertama dengan deklaratif adalah cara berpikir dengan kalimat dasar "atau"
Misal saya mau makan mangga atau jeruk, kemudian dia bingung dan akhirnya makan keduanya...
cara berpikir dengan kalimat dasar "atau" adalah pemikir yang primitif.

Kedua dengan kumulatif adalah cara berfikir dengan kalimat dasar "dan"
Misal ketika saya mau makan mangga saya harus bisa membuat bentuk lain dari mangga, mau di jus, di iris atau dimakan langsung...

Ketiga dengan Serial adalah cara berfikir dengan kalimat dasar "jika-maka"
jika maka ini, jika ini maka ini jika ini maka ini jika ini maka ini , dan seterusnya berkembang imajinatif..
Makan mangga dibuat jus dan di modifikasi kemudian dikemas dengan baik di pasarkan dan boom...

Keeempat dengan paralel adalah cara berfikir dengan gabungan "jika-maka" + "dan" + "atau"
kemungkinan melakukan sesuatu memecahkan sesuatu caranya jadi semakin banyak....
paralel mengajarkan saya berfikir kategori dari abstrak dengan jenis data apa yang saya ingin olah ada data sensori ada abstrak ada data kategori dari abstrak ada ke data kategori dari kategori abstrak dan ini lebih kompleks lagi di kembangkan dengan tindakan serta analisis.

Saya, anda disekolahkan kemudian diajarkan adalah pengetahuan data dan ingat-ingat sesuatu pelajaran sekolah itu tahu "apa" bukan bagaimana ??? apakah seperti itu??
Padahal untuk memecahkan masalah kita harus tahu "bagaimana" bukan tahu apa walaupun kau "Apa" itu modal. Ada contoh kasus TKW hongkong salah satu exportir parfum terbesar ke indonesia dia buta huruf tak bersekolah dan hanya mengandalkan pikiran paralel "bagaimana" dia bisa menjawab "bagaimana" dengan "jika-maka" + "dan" + "atau" untuk mengimajinasikan dengan tindakan serta analisis untuk memecahkan masalah.

Berpikir paralel Bersama kesulitan, ada kemudahan.

Setiap kesulitan bersama kemudahan, bersama kesulitan ada kemudahan. Kalau dipikir deklaratif pasti setelah kesulitan ada kemudahan dia tidak bisa melihat kemudahan dalam kesulitan yang dia alami langsung???

soffan - red

 











Tampilkan Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.

Comments

Recent

Bottom Ad [Post Page]

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

Stat Count

-->